MAKALAH
PUBLIKASI KARYA TULIS ILMIAH
Dipresesntasikan dalam Mata kuliah
Karya Tulis Ilmiah
Yang diampu Oleh M. Rikza Chamami, M. SI

Disusun Oleh:
1. Ahmad Muasy Bakhri ( 123311008)
2. Nur Hidayati (123111119)
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
IAIN WALISONGO SEMARANG
2013
I. PENDAHULUAN
Publikasi adalah tahap terakhir dalam menulis karya tulis ilmiah. Menyusun karya tulis ilmiah dan mempublikasikannya bukan hanya tanggung jawab guru, peneliti, dan pengembang lain, melainkan tanggung jawab banyak orang. Karenanya, mereka dari hari ke hari harus mampu bermetamorfosis dari semi ilmuan atau semiprofesional menjadi tampil sebagai tenaga ahli atau pakar (expert-performance).
Sebelum mempublikasikan karyanya, seorang penulis dituntut untuk mampu menyuarakan pengetahuannya, memecahkan masalah dengan membaca keadaan sekitar, menstimulai permasalahan dari pelbagai sudut pandang atau sekadar mengungkapkan ekspresi emosionalnya dalam memandang suatu permasalahan ke dalam sebuah karya tulis ilmiah.
Sudah barang tentu menyusun karya ilmiah yang berbobot membutuhkan waktu, tenaga pikiran dan fisik yang ekstra. Mulai dari membaca buku sebanyak mungkin yang terkait dengan penulisan karya tulis ilmiah hingga mengintegrasikan energi otak kanan dan otak kanan. Hal tersebut dilakukan agar tulisan yang dihasilkan memiliki kupasan yang komprehensif dan mendalam. Adapun hal lain yang harus diperhatikan oleh penulis adalah dimensi-dimensi keterkaitan karya tulis ilmiahnya dengan keteraksesannya dengan pembaca budiman. Intinya penulis juga harus menyesuaikan tulisannya dengan sasaran pembaca.
Hal-hal yang berkaitan dengan tahap-tahap publikasi sangat menarik untuk diulas secara gamblang, maka dari itu penulis mencoba mengulas pembahasan ihwal publikasi, mulai dari kiat-kiat memasarkan naskah karya tulis ilmiah, teknik menembus publikasi (jurnal, media massa, koran), contoh-contoh surat pengantar ke penerbit dan surat penawaran seminar dan lokakarya serta sajian tulisan pada sub-bab yang terakhir yaitu harga mahal sebuah karya tulis.
II. RUMUSAN MASALAH
A. Apa landasan dan pengertian publikasi ilmiah?
B. Bagaimana memasarkan naskah karya tulis ilmiah?
C. Bagaimana teknis menembus publikasi ilmiah?
D. Bagaimana contoh surat pengantar?
E. Mengapa karya tulis ilmiah itu mahal?
III. PEMBAHASAN
A. Landasan dan Pengertian Publikasi
Imam Ali bin Abi Thalib pernah menuliskan kata-kata dengan tinta emas beliau yakni Ikatlah ilmu dengan jalan menuliskannya. Dari kata-kata beliau dapat kita ambil pemahaman menulis hasil penelitian, PTK, dan pengalaman nyata di bidang pembelajaran bermakna mengikat apa yang telah ditemukan, diperoleh, dialami, dan dicapai di bidang ini. Temuan-temuan penelitian itu akan mati atau hanya sebatas”harta karun” mana kala tidak dipublikasikan.
Menulis karya publikasi atau karya tulis pada umumnya, intinya adalah memasarkan dan menjual kepada publik mengenai segala sesuatu yang terkait dengan bidang ini.[1] Di samping itu, menyusun karya publikasi ilmiah intinya adalah menata gagasan dan temuan untuk dinikmati pembaca. Gagasan atau temuan itu memiliki nilai sosial, ekonomi, dan kemanusiaan, baik jangka pendek maupun jangka panjang.
Publikasi karya tulis ilmiah dan sejenisnya dapat disajikan dalam bentuk buku, artikel ilmiah, artikel online, atau dikemas dalam bentuk sebuah karya ilmiah populer. Di dalamnya terkandung proses-proses yang meliputi:[2]
a. Pengembangan teks tulisan.
b. Memasarkan pengalaman, pengetahuan, dan produk teknologi.
c. Ekspresi atas verifikasi focus yang ditulis
d. Jembatan antara produk pemikiran dan teoretik dengan operasi-operasi komponensial.
e. Pemecahan masalah yang berkaitan dengan subtansi dan fokus tulisan.
f. Memfasilitasi rekontekstualisasi pengalaman dan pengetahuan atau produk teknologi yang dihasilkan.
g. Proses hubungan transformasional sesama pakar atau kelompok peminat.
B. Teknik Memasarkan Karya Tulis Ilmiah
Setelah menghasilkan sebuah karya tulis ilmiah, langkah yang harus dilakukan oleh para penulis adalah mempublikasikannya. Tentunya sudah menjadi impian seorang penulis agar tulisannya dapat dipublikasikan dan dimuat baik melalui media massa maupun melalui cara lainnya.langkah-langkah yang harus diambil dalam mempublikasikan karya tulis ilmiahnya:
1. Mengirimkan naskah ke media atau penerbit
Dalam mempublikasikan karyanya penulis bisa mengirimkan tulisannya atau karya buku ke penerbit. Bila naskah belum jadi kita bisa mengirimkan proposal terlebih dahulu. Untuk mempermudah penerbit dalam mempelajari naskah yang kita kirimkan, sebaiknya kita melampirkan proposal pengajuan naskah beserta foto kopi naskah yang akan kita kirimkan. Bahkan jika naskah yang kita tulis belum selesai, kita bisa mengajukan proposalnya terlebih dahulu ke penerbit. Ada beberapa cara pengiriman proposal dan juga naskah ke penerbit:
Proposal
Proposal bisa dikirimkan dengan berbagai cara sebagai berikut:
a. Langsung
Penulis dapat mengirimkan langsung proposal naskah dan mengantarkannya kepada pihak yang berkompeten. Proposal sebaiknya dimasukkan ke dalam amplop yang layak, dengan nama dan alamat penerima yang jelas, serta nama dan alamat anda.
b. Pos
Penulis juga bisa menggunakan jasa pengiriman seperti pos atau kurir. Gunakan pengiriman tercatat atau kilat khusus yang yang memberikan tanda terima pengiriman.
c. Faksimile
Anda harus memastikan proposal yang yang tercetak dengan tinta hitam dan mudah untuk dibaca untuk menghindari ketidakjelasan pada waktu proposal diterima dalam bentuk faksimile. Bila tulisan dikirim dengan warna selain hitam maka tulisan akan menjadi kabur atau bahkan tidak bisa dibaca sama sekali.
d. Email
Kini jasa email banyak digunakan oleh penebit. Penulis tidak hanya dapat mengirimkan proposal ke penerbit tapi juga sekaligus naskahnya. File bisa dikirim seluruhnya dengan menggunakan fasilitas attachment. Email juga merupakan sarana yang efektif untuk komunikasi antara penerbit dan penulis.
Naskah
Untuk mengirimkan naskah karya tulis ilmiah kepada penerbit kita bisa mengirimkannya lewat:
a. Langsung
Memasukkan naskah ke kantong plastik sebelum membungkusnya ke dalam amplop adalah upaya preventif untuk menghindari naskah dari kerusakan. Naskah dapat diberikan langsung kepada pihak yang berkompeten dan tanda terima dari si penerima harus diterima.
b. Pos
Naskah dapat dikirim melalui media pos. Pengiriman naskah tercatat melalui pos harus dilengkapi dengan tanda terima. Penulis sebaiknya memasukkan amplop kosong yang sudah dilengkapi dengan alamat pengirim dan perangko secukupnya agar penerbit mudah mengirimkannya kembali jika naskah ditolak.
c. Email
Pengiriman naskah juga bisa dilakukan via email melalui fasilitas file attachment. Namun sebaliknya dikonfirmasi terlebih dahulu kepada penerbit yang dituju apakah penerbit bersedia menerima naskah melalui email atau tidak karena tidak semua penerbit bersedia menerima naskah melalui email. Setelah anda mengirimkan naskah via email, sebaiknya mengkorfimasi penerbit yang bersangkutan untuk mengecek apakah email anda sudah diterima dengan baik. Hal ini perlu dilakukan karena terkadang timbul masalah dalam pengiriman naskah via email, misalnya kesibukan server email yang menyebabkan email yang dikirim tidak masuk ke alamat email yang dituju.[3]
2. Menunggu lampu hijau dari redaksi
Setelah tulisan dikirim, kita tinggal menuggu lampu hijau dari redaksi apakah memuat tulisan atau tidak. Untuk menunggu kabar dari media yang kita kirimi tulisan bisa memakan waktu berkisar dari sehari hingga tiga bulan, tergantung kepada media yang kita ajukan. Untuk harian biasanya tenggang waktu menuggu berita pemuatan lebih cepat dibanding majalah atau jurnal ilmiah. Untuk majalah atau jurnal ilmiah yang terbitnya bulanan atau triwulan, redaksi biasanya mengabarkan bahwa artikel yang kita kirimi akan dimuat pada edisi tertentu.
3. Proses penerbitan
Untuk karya tulis yang berupa buku, setelah penulis menulis naskah buku teks pelajaran, proses selanjutnya adalah menerbitkannya sehingga menjadi buku teks pelajaran.[4] Tahap dalam publikasi ilmiah ini adalah proses penerbitan dan pemasaran. Sebelum diterbitkan buku itu akan diedit terlebih dahulu. Setelah buku terbit dan dikirimkan oleh percetakan ke gudang penerbit, maka tahap berikutnya adalah memasarkannya. Kegiatan utama pemasaran buku adalah promosi, distribusi, dan penjualan. Dilihat dari tiga unsur utama diatas, kita dapat menggolongkan pola pemasaran penerbit ke dalam tiga golongan besar.
Golongan pertama adalah penerbit yang mempercayakan pendistribusiannya kepada distributor tunggal. Penerbit yang masuk kedalam golongan ini hanya cukup berhubungan dengan distributor tunggalnya.
Golongan kedua adalah penerbit yang mendistribusikan buku-bukunya ke beberapa distributor/ grosir dan toko buku.
Golongan terakhir adalah penerbit yang sama sekali tidak mengandakan tokmo buku dalam pemasarannya. Penerbit golongan ini menerapkan modus penjualan langsung (direct selling). Para penjualnya biasanya mendatangi komunitas tertentu misalnya arisan ibu-ibu. [5]
C. Teknis Menembus Publikasi Ilmiah
Suatu karya tulis ilmiah pantas untuk dipublikasikan dan dimuat di media massa atau sebagainya apabila karya tulis tersebut berkualitas dan memiliki conten yang berbobot, baik itu dari segi judul, isi, bahasa, serta dari segi format penulisannya.
1. Memulai menulis
Media massa umunya menyediakan ruang khusus untuk penulis kolom ini. Kolom ini juga merupakan wahana persaingan terbuka bagi para penulis siapa pun, meski sesekali redaksi itu juga memanfaatkannya. Oleh karena sifatnya bersaing, karya tulis ilmiah siapa yang paling cepat, paling baik, dan paling cocok dengan visi dan misi media itu memiliki peluang besar untuk dimuat.
Menulis di media massa itu sangat menarik, meski tidak selalu mudah, terutama bagi penulis pemula. Bagi penulis pemula, menulis di media massa merupakan perjuangan tersendiri. Penulis pemula, laksana produk baru yang jika tidak bisa memasarkannya dengan cara menyentuh alam sadar pembeli, akan sulit laku. Sangat mungkin redaktur terlebih dahulu ingin mengenali siapa yang menawarkan sebuah tulisan. Berbeda dengan penulis yang sudah terkenal, redaktur tidak lagi bertanya-tanya mengenai siapa dia, melainkan langsung berfokus pada apa yang ditulisnya. Namun demikian , perlu disadari bahwa setiap penulis itu berawal dari pemula terlebih dahulu.
2. Tidak ada kata gagal
Setelah seorang penulis mengirimkan tulisannnya ke redaktur. Jangan menggunakan kata “gagal” ketika tulisan ditolak oleh redaktur. Meski tidak dimuat, penulis akan tetap diuntungkan, karena dengan menulis itu dia akan memperoleh pengalaman langsung atas substansi tulisannya. Juga menerima pengalaman langsung dari respon redaktur. Terimalah pengalaman itu sebagai kemenangan karena tidak ada gunanya meresapi ketidaknyamanan.
Bagi penulis pemula, perlu diperhatikan bahwa tidak pernah akan gagal menulis di media massa, kecuali kalau memulainya. Ketika mulai memberanikan diri menulis, ketika itu pula potensi gagal berawal. Sebaliknya, keberanian mencoba itu pulalah yang akan mengawali keberhasilan menulis di media massa. Perlu kita ketahui, dalam dunia menulis di media massa terjadi persaingan yang sangat ketat.
3. Layak dimuat
Tidak ada formulasi yang paling akurat untuk memastikan apakah sebuah karya tulis yang dikirim akan dimuat pada rubrik opini media massa. Cara yang paling baik adalah berani memulai dan tidak merasa takut apakah akan dimuat atau tidak. Ketika tidak dimuat ikuti saran –saran redaktur. Transformasikan saran-saran itu ketika membuat tulisan baru.
Kriteria dan syarat agar suatu karya ilmiah layak untuk dipublikasikan, antara lain sebagai berikut:
a. Pada umumnya media massa hanya akan memuat tulisan yang sesuai dengan visi, misi, dan karakter media tertentu. [6]
b. Gagasan yang futuristik.
Sebagian koran suka memuat opini yang futuristik atau berupa pemikiran yang proyektif penulisnya. Tentu saja bukan sekedar khayalan melainkan sebuah ramalan ilmiah, pemikiran yang ke depan secara nisbi dapat dipertanggungjawabkan. Seperti contoh artikel tentang akan tenggelamnya bumi akibat global worming.[7]
c. Keunikan atau keklasikan gagasan.
Gagasan atau praktik lama yang dimodifikasi, karena dipandang masih relevan dengan tuntutan zaman atau layak disegarkan kembali secara kekinian.
d. Penggunaan bahasa yang baik dan benar, serta memenuhi kriteria sopan dan santun secara sosial.
Penggunaan bahasa yang bernilai kritik sosial atau menjadi penting, tapi harus ada batasnya alias tidak terlalu vulgar. [8]Untuk karya tulis di media koran dan majalah hendaknya menggunakan bahasa ilmiah populer, tulisan yang menggunakan bahasa ilmiah populer akan menarik perhatian redaksi. [9]Perlu diperhatikan, dalam karya tulis ilmiah yang berupa artikel, dalam penggunaan ragam tulis mau tidak mau, kita dituntut tunduk pada kaidah gramatika, kaidah ejaan, dan kaidah istilah yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. [10]
e. Kemanfaatannya bagi pembaca.
Dalam memilih topik karya tulis haruslah yang bermanfaat dan layak dibaca. Bermanfaat, berarti bahasan tentang topik itu akan memberi sumbangan pada ilmu atau profesi bagi pembaca. [11]
f. Tulisan sesuai dengan bidang penulis.
Redaksi akan lebih senang menerima tulisan dari orang yang sesuai dengan bidangnya.Hal ini merupakan hal yang sangat manusiawi karena umumnya kita pasti akan lebih percaya pada tulisan seorang dokter specialis daripada tulisan seorang profesor ekonomi bila sedang berbicara masalah pencegahan kanker. Maka, tulislah sesuatu yang sesuai dengan kompetensi, atau paling tidak tidak jauh dari bidang profesi penulis, atau akan jadi lebih baik lagi jika menjadi seorang penulis specialis. Tidak perlu khawatir karena pada fase awal kita memang umumnya akan menjadi seorang penulis generalis, yaitu menulis bemacam-macam tulisan dengan bermacam-macam tema. Namun, ketika jam terbang kita sudah banyak. Maka kita akan menemukan karakter dan “tempat kita yang sebenarnya”. Pada saat itulah spesialisasi atau ciri khas akan terbangun.[12]
g. Tema yang spesifik dan aktual.
Judul yang spesifik akan memaksa penulis memberikan kajian yang lebih dalam karena judul itu membatasi ruang lingkup pembahasan. Dengan demikian, pembahasan yang diungkapkan lebih bisa terarah dan mengena pada sasarannya.[13]Media massa harian atau koran biasanya tidak mau memuat tema-tema yang basi. Dengan demikian, penulis harus mengikuti informasi kekinian. Isu-isu besar yang aktual yang biasnaya menyedot perhatian banyak orang. Isu-isu semacam iu biasanya akan bertahan lebih lama. Namun demikian, ketika ada isu atau peristiwa lain yang lebih hangat dan menggema, isu-isu yang lama tadi masuk kategori basi. Aneka isu besar di masyarakat laksana gelombang pasang, satu ombak besar akan “ditelan” oleh ombak lain yang datang secara susul menyusul.
h. Substansi utama atau ide tulisan bukan hasil plagiat atau jiplakan.
Tulisan merupakan hasil karya penulisnya. Jika terjadi komplain atau tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis rubrik kolom itu. Dengan karya tulis orisinil tidak berarti bahwa semua substansinya harus merupakan produk berpikir penulisnya. Istilah plagiat juga mengandung makna bahwa substansi yang diperoleh dari sumber-sumber sekunder, kajian pustaka, pendapat orang lain, dan sejenisnya harus dinyatakan secara jujur. Tulisan yang telah dikirim ke media massa atau koran tertentu, jangan dikirim ke koran lain. Praktik semacam ini akan menimbulkan artikel ganda, jika masing-masing koran memuatnya. Memang ada koran tertentu yang memberi toleransi, ketika satu opini dikirim ke dua jenis media massa yang berbeda. Toleransi ini biasanya dimungkinkan pada koran yang berbeda bahasanya.Seandainya anda mengirim satu tulisan pada dua koran nasional maupun daerah dalam waktu yang bersamaan dan ketahuan, sama artinya menciderai kepercayaan dari redaktur dan tentu saja sanksi bahwa tulisan kita tidak akan lagi dimuat cukup beralasan karena hal tersebut adalah hal yang tidak fairdan anda bisa dinilai serakah karena ingin mendapatkan honor berlipat ganda dari banyak media dengan satu tulisan anda tersebut. Dilarang keras mengirimkan karya yang mengandung nsur plagiarisme. Menurut Jennings (2006), plagiarisme adalah penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat dan sebagainya dari orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan dan pendapat sendiri. Plagiat dapat dianggap sebagai tindakan pidana karena mencuri hak cipta orang lain. Dalam buku Bahasa Indonesia: Sebuah Pengantar Penulisan Ilmiah, Utorodewi, et.al. (2007) menggolongkan hal-hal berikut sebagai plagiarisme, yaitu mengakui tulisan dan gagasan orang lain sebagai tulisan orang lain atau pemikirannya sendiri, menyajikan tulisan yang sama dalam kesempatan yang berbeda tanpa menyebutkan asal-usulnya, meringkas dan memparafrasakan dengan menyebut sumbernya, tetapi rangkaian kalimat dan pilihan katanya masih terlalu sama dengan sumbernya, meringkas dan memparafrasakan (mengutip tak langsung atau menulis kembali dengan bahasa yang berbeda maski intinya sama) tanpa menyebutkan sumbernya.[14]
4. Perbaikan naskah
Penulis jangan menutup diri atau egois menerima saran editor atau reviewer. Kalau ada saran perbaikan atas naskah publikasi yang dikirim perbaikilah segera, apalagi ada pemberitahuan batas waktunya. Naskah publikasi yang telah dikembalikan untuk diperbaiki biasanya disertai dengan lembaran komentar reviewer yang bisa bersifat umum atau spesifik. Sangat mungkin juga disertai dengan tambahan beberapa catatan lain pada naskah publikasi tersebut.
Perbaikilah naskah publiksi sesuai dengan saran, komentar, serta koreksi yang diberikan. Biasanya pengirim naskah publikasi diminta memberikan jawaban secara rinci baris demi baris mengenai apa yang diperbaiki. Dalam kerangka ini penulis dapat saja tidak setuju dengan saran para reviewer, dengan mengemukakan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Guru juga dapat menambahkan hal-hal yang dianggap penting, meskipun tidak ada saran dari editor.
5. Pengiriman kembali
Perbaikilah segera naskah publikasi sesuai dengan saran dan catatan redaktur, editor, atau reveiwer. Setelah semua diperbaiki, kirimkan kembali naskah tersebut beserta jawaban atau komentarnya atas saran para editor atau reviewer. Sertakan pula naskah publikasi yang lama berisikan koreksian. Bersabarlah menunggu respon editor atas naskah yang telah diperbaiki. Harap perhatikan surat terdahulu, beberapa kopi penulis harus mengirimkan naskah. Jika tidak ada surat pemberitahuan yang meminta naskah diperbaiki kembali, ada potensi kuat naskah itu akan dimuat. Pada saat revisi terakhir biasanya pengirim naskah juga diminta untuk mengirimkan naskah publikasi dalam bentuk soft copy. Pengiriman melalui email, web, dan sebagainya, sehingga proses pemuatan berjalan lebih cepat. [15]
D. Contoh Surat Pengantar
CONTOH SURAT
PENGIRIM NASKAH BUKU KE PENERBIT
Perihal : Pengirim Naskan Buku
Lampiran : Curiculum Vitae dan Copy Naskah
Yang Terhormat,
Direktur PT XXXXXXX
Cq. Bidang Penerbitan
di-
Jakarta
Dengan hormat
Bertanda tangan dibawah ini, saya:
Nama : Drs. H.A. Rahmat Rosyadi, S.H., M.H.
Pekerjaan : Dosen Fakultas Hukum UIKA Bogor.
Mata Kuliah : Hulum Islam
Alamat : Komp. Nusa Endah Rt 05/02 Cimanggu I
Tlp 0251-640507 HP.081289097843
Melalaui surat ini saya kirimkan naskah buku untuk diterbitkan dengan judul: “FORMALISASI SYARI’AT ISLAM DALAM PERSPEKTIF TATA HUKUM INDONESIA”.
Naskah ini merupakan studi tentang aplikasi syari’at Islam pasca berlakunya Undang-Undang No. 18 tahun 2001 Otonomi Khusus Bagi Daerah Istimewa Aceh Sebagai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Penerbitan buku ini akan digunakan sebagai suplemen atau pelengkap meteri/bahan mata ajar kuliah Hukum Islam pada program studi agama Islam di Universitas, institut, sekolah tinggi di Indonesia. Buku itu juga akan dijadikan model aplikasi syari’at islam di daerah lain di Indonesia. Penyerapan pasarnya untuk perguruan tinggi maupun di kalangan pemerintahan dan masyarakat sangat prospektif.
Buku ini bila diterbitkan akan menjadi buku acuan wajib pada mata kuliah hukum islam yang selama ini saya sendiri senbagai dosen dan pemegang mata kuliah tersebut. Dengan terbitnya buku ini diharapkan mahasiswa mempunyai pegangan buku mata kuliah standar. Apabila pihak penerbit menyetujui atas penerbitannya, saya akan mengirimkan copy software naskah bukunya.
Demikian saya sampaikan, atas kerja sama yang baik dan perhatiannya diucapkan terima kasih.
Bogor, 20 September 2007
Pengirim,
TTD
Rahmat Rosyadi
Contoh surat dari penulis atau calon penulis di atas merupakan contoh yang cukup baik. Surat itu dilengkapi dengan curriculum Vitae (CV) dan keterangan target pembacanya. Hali ini penting. Melalui CV, penerbit akan lebih mengenal penulis, terutama dikaitkan dengan kemungkinan–kemungkinan promosi jika naskah itu jadi diterbitrkan. Seorang calon penulis yang mengajar di banyak sekolah atau perguruan tinggi akan lebih disukai oleh penerbit, karena memiliki peluang penjualan yang lebih baik ketimbang calon penulis yang hanya mengajar di suatu sekolah atau kampus.[16]
E. Harga Mahal Karya Tulis Ilmiah
Menulis karya tulis ilmiah merupakan kegiatan yang bermanfaat, selain mampu mengeksplor kemampuan akal kita, mencerdaskan publik, menullis karya tulis juga kegiatan yang bersifat ekonomis. Apakah tulisan yang dimuat ada honornya? Tentu saja ada. Berdasarkan pengalaman pribadi dari Bapak Prof. Dr. Mudrajad Kuncoro, Ph. D penulis buku Mahir Menulis, beberapa kali beliau diundang seminar karena panitia/menteri/pejabat membaca artikelnya yang dimuat dimedia massa. Artinya artikel adalah media komunikasi ide dan diri anda. Pada The Jakarta Post (artikel bahsa Inggris), misalnya, tulisan yang dimuat dihargai Rp. 750.000,00. Sementara itu di Kompas dan Jawa Pos, masing-masing sebesar Rp 450.000,00 dan Rp 500.000,00 bahkan Rp. 1.000.000,00 untuk penulis yang terkenal. Ketiga koran ini adalah koran yang memberikan honor terbesar. Sementara itu, koran nasional lain seperti Media Indonesia, Suara Pembaruan, Suara Karya, dan koran-koran di daerah Jawa memberikan honor rata-rata Rp 300.000 sampai Rp 1.000.000.[17]
Bagi seorang dosen, atau guru yang mampu menulis dan menerbitkan karya tulis atau buku akan memperoleh manfaat yang banyak. Baik itu dari segi ekonomis maupun dari segi strata kepangkatan, seperti :
1. Dari sisi dosen dari segi pencipta : akan mendapatkan perlindungan hak cipta atas karyanya. Dengan menerbitkan buku secara resmi, hak ciptanya dilindungi dan orang lain akan segan atau tidak seenaknya saja memfotokopi.
2. Dari sisi dosen sebagai manajemen: penambah nilai akreditasi. Pengajar, dosen, wdyaiswara atau pelatih yang menerbitkan buku selain mendapatkan angka kredit yang tinggi untuk kenaikan pangkat, juga akan meningkatkan nilai angka akreditasi lembaga tempat mereka bekerja. Bahkan The Times Higher Education Supplement memilih universitas terhebat di dunia dan salah satu kriterianya adalah jumlah karya tulis dosen yang dikutip di forum dunia.
3. Dari sisi dosen sebagai Pencari uang tambahan: mendapatkan royalti dan pengakuan. Selain royalti dari penerbit, penulis yang sukses juga mendapat banyak berkah tambahan. Bila bukunya menarik dan bermanfaat bagi masyarakat, mereka bisa sering diundang untuk berbicara dalam ceramah, seminar, atau lokakarya. [18]
IV. KESIMPULAN
A. Publikasi karya tulis ilmiah, intinya adalah memasarkan dan menjual kepada publik mengenai segala sesuatu yang terkait dengan bidang ini (karya yang bersifat ilmiah).
B. Memasarkan karya tulis ilmiah adalah
1. Menulis dan mengirimkan naskah karya tulis ilmiah
2. Menunggu sinyal dari redaktur
3. Proses penerbitan
C. Teknis menembus karya tulis ilmiah
1. Memulai menulis
2. Jangan pernah takut gagal (percaya diri)
3. Kriteria layak naskah dimuat:
a. Pada umumnya media massa hanya akan memuat tulisan yang sesuai dengan visi, misi, dan karakter media tertentu.
b. Gagasan yang futuristik. Sebagian koran suka memuat opini yang futuristik atau berupa pemikiran yang proyektif
penulisnya.
c. Keunikan atau keklasikan gagasan.
d. Penggunaan bahasa yang baik dan benar, serta memenuhi kriteria sopan dan santun secara sosial.
e. Kemanfaatannya bagi pembaca.
f. Tulisan sesuai dengan bidang penulis.
g. Tema yang spesifikdan aktual
h. Substansi utama atau ide tulisan bukan hasil plagiat atau jiplakan.
4. Perbaikan naskah
5. Pengiriman kembali
D. Untuk surat pengantar pada intinya adalah pengajuan proposal dari penulis kepada penerbit agar karya tulis ilmiahnya dapat diterima dan dimuat di media atau redaksi.
E. Menulis dapat mendatangkan honor. Bagi seorang dosen, atau guru yang mampu menulis dan menerbitkan karya tulis atau buku akan memperoleh manfaat yang banyak. Baik itu dari segi ekonomis maupun dari segi strata kepangkatan, seperti :
1. Dari sisi dosen dari segi pencipta : akan mendapatkan perlindungan hak cipta atas karyanya. Dengan menerbitkan buku secara resmi, hak ciptanya dilindungi dan orang lain akan segan atau tidak seenaknya saja memfotokopi.
2. Dari sisi dosen sebagai manajemen: penambah nilai akreditasi. Pengajar, dosen, wdyaiswara atau pelatih yang menerbitkan buku selain mendapatkan angka kredit yang tinggi untuk kenaikan pangkat, juga akan meningkatkan nilai angka akreditasi lembaga tempat mereka bekerja. Dari sisi dosen sebagai Pencari uang tambahan: mendapatkan royalti dan pengakuan. Selain royalti dari penerbit, penulis yang sukses juga mendapat banyak berkah tambahan. Bila bukunya menarik dan bermanfaat bagi masyarakat, mereka bisa sering diundang untuk berbicara dalam ceramah, seminar, atau lokakarya.
V. PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat kami sajikan, semoga dapat bermanfaat bagi semua tentunya bagi pemakalah khususnya. Kami menyadari bahwa makalah kami ini jauh dari kesempurnaan. Karena kesempurnaan hanyalah milik Illahi rabbi. Oleh sebab itu, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapakan.
DAFTAR PUSTAKA
Danim, Sudarwan. 2010. Karya Tulis Inovatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Kuncoro, Mudrajad. 2009. “Mahir Menulis”. Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama.
Leo, Sutanto. 2010. Kiat Jitu Menulis dan Menerbitkan Buku. Jakarta: PT.Gelora Aksara Pratama.
Rosyadi, A. Rahmad. 2008. Menjadi penulis Professional itu mudah. Bogor: Ghalia Indonesia.
Sitepu. 2012. Penulisan Buku Teks Pelajaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Wibowo, Wahyu. 2006. Berani Menulis Artikel. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
[3] Sutanto Leo, Kiat Jitu Menulis dan Menerbitkan Buku, (Jakarta: PT.Gelora Aksara Pratama,2010). Hal.145-147
[5] A. Rahmat Rosyadi, Menjadi penulis Professional itu mudah, (Bogor: Ghalia Indonesia,2008). Hal. 133-134
[8] Sudarwan Danim, Karya Tulis Inovatif, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,2010, hal. 59
[10] Wahyu Wibowo, Berani Menulis Artikel, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2006, hal.75.
[11] Wahyu Wibowo, Berani Menulis Artikel, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2006), hal.81
[13] Sutanto Leo, Kiat Jitu Menulis dan Menerbitkan Buku, Jakarta: PT.Gelora Aksara Pratama,2010. Hal. 41.
[16] A. Rahmat Rosyadi,Menjadi Penulis Profesional itu Mudah (Bogor: Ghalia Indonesia, 2008)Hlm. 108-109
[18]Sutanto Leo, Kiat Jitu Menulis dan Menerbitkan Buku, (Jakarta: PT.Gelora Aksara Pratama,2010). Hal.7-8.
Tag :
Coretanku,
Tugas Negara
1 Komentar untuk "#Makalah Publikasi Karya Tulis Ilmiah"
Assalamualaikum, izin mengambil file untuk tambahan referensi, :) Terimakasih